Akibat DBD Tiga Warga Lebak Meninggal Dunia

Ilustrasi

infobanten.id | Sebanyak 80 orang warga di Kabupaten Lebak, Banten menderita penyakit demam berdarah dengue (DBD) selama Maret 2020 dan tiga di antaranya meninggal dunia.

“Kami bekerja keras agar warga melakukan gerakan pemberantasan sarang nyamuk dengan 3 M (mengubur, menguras, menutup) dan pemberian abatesasi untuk memutus mata rantai penyebaran penyakit DBD” kata Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak dr Firman Rahmatullah di Lebak, Rabu.

Selama ini, kasus penderita DBD terjadi peningkatan sehubungan curah hujan di daerah itu cenderung meningkat.

Biasanya, populasi nyamuk pembawa virus DBD itu berkembangbiak di lokasi genangan-genangan air yang tidak menyentuh tanah, seperti barang-barang bekas maupun kolam rumah dan drainase.

Untuk memutus mata rantai penularan DBD, kata dia, pihaknya meminta masyarakat dapat melakukan gerakan PSN, karena bisa mematikan jentik-jentik nyamuk.

Selain itu juga warga dapat membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan tidak membuang sampah sembarangan.

Apabila, jentik-jentik nyamuk DBD itu mati dipastikan tidak akan terjadi penyebaran penyakit menular tersebut.

“Kami menghafapi musim hujan itu tetu mewaspadai penyebaran DBD itu,” katanya menjelaskan.

Menurut dia, pemerintah daerah berkomitmen untuk pemberantasan berbagai penyakit menular,ternasuk DBD dengan melaksanakan tindakan preventif (pencegahan) dan kuratif (pengobatan).

Begitu juga kegiatan promosi dengan melakukan penyuluhan dan sosialisasi kepada masyarakat untuk memberikan edukasi tentang bahaya penyebaran menular.

Penyebaran penyakit DBD tahun ini, kata dia, terjadi peningkatan dibandingkan bulan yang sama pada tahun 2019.

Karena itu, masyarakat dapat mengoptimalkan gerakan PSN juga melakukan kebersihan lingkungan agar tidak berpotensi berkembangbiaknya nyamuk pembawa virus DBD.

“Kami minta warga dapat melaksanakan gerakan PSN, PHBS dan kebersihan lingkungan untuk memutus mata rantai penyakit mematikan itu,” katanya menjelaskan.

Dokter juga mengatakan, apabila masyarakat mengalami suhu demam tinggi hingga di atas tiga hari dan disertai bintik-bintik merah segera dilarikan ke Puskesmas dan rumah sakit setempat untuk mendapatkan penanganan medis.

Sebab, jika penyakit DBD itu terlambat mendapatkan penanganan medis hingga dinyatakan Stadium IV dengan ciri-ciri mengeluarkan darah dari hidung maka kecil kemungkinan bisa kembali sembuh.

Ia meminta seluruh petugas Puskesmas agar mewaspadai penyebaran penyakit DBD selama musim hujan, sehingga tidak menjadikan kasus kejadian luar biasa (KLB).

Penyebaran endemik virus DBD tersebut di wilayah padat penduduk, di antaranya Rangkasbitung, Maja, Warunggunung, Cibadak, Gunungkencana dan Sajira.

Selama ini, warga yang teridentifikasi positif DBD dilakukan penyuluhan dan pengasapan foging untuk mematikan nyamuk dewasa juga menerjunkan petugas untuk melakukan penelitian epidemiologi.

“Saya kira untuk memutus mata rantai penyebaran DBD lebih efektif dengan gerakan PSN, karena bisa mematikan jentik nyamuk DBD itu,” katanya menjelaskan.

Kepala Puskesmas Kolelet Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, E Hasanah mengaku pihaknya hingga kini terus melakukan kegiatan sosialisasi untuk memberikan edukasi kepada masyarakat agar dapat mencegah penyebaran DBD.

Saat ini, penderita DBD di wilayah tugasnya akibat tertular penyakit menular itu dari luar daerah.

“Kami setiap pekan melakukan PSN dan gerakan kebersishan 3 M yang melibatkan petugas jentik untuk pencegahan DBD,” jelasnya. (*)