Srikandi Relawan Covid-19, Rasa Kemanusiaan Mengalahkan Rasa Takut

Indonesia dan negara-negara lainnya, tengah berperang melawan musuh yang tak terlihat yakni Corona Virus Disease atau Covid-19.

infobanten.id | Indonesia dan negara-negara lainnya, tengah berperang melawan musuh yang tak terlihat yakni Corona Virus Disease atau Covid-19.

Di Indonesia sendiri sudah terdapat belasan ribu kasus positif dan ratusan meninggal dunia karena Covid-19. Dari ratusan orang yang meninggal dunia karena Covid-19, beberapa diantaranya merupakan perawat atau dokter.

Meski begitu, mereka yang tulus dalam bekerja. Para tenaga medis, relawan dan lainnya rela meninggalkan keluarganya, demi membantu pasien Covid-19 agar cepat sembuh serta bisa kembali berkumpul bersama keluarga.

Tebalnya pakaian hazmat dan kelengkapan lainnya, menjadi ujian, mereka harus menahan hawa udara panas.

Seperti yang diceritakan oleh, salah seorang Relawan Covid-19 dari Palang Merah Indonesia (PMI) Tangsel, Fitratun Nisa.

Nisa turut berperan langsung ketika mengantarkan pasien sembuh dari Rumah Lawan Covid-19 Tangsel, pada Minggu (03/05/2020) untuk kembali berkumpul bersama teman dan keluarganya.

Perasaan takut, khawatir terus hinggap dipikirannya. Namun, rasa takut dan khawatirnya berhasil dikalahkan dengan rasa kemanusiaannya yang tinggi untuk menolong.

“Rasa ada takutnya, karena ini yang dilawan virus engga keliatan. Kalau banjir atau gempa kan keliatan wujudnya. Tapi, kalau saya pribadi sih saya ngerasa enggak enak aja kalau enggak bisa turun bertugas. Padahal bisa saja saya di rumah ikutin imbauan pemerintah tapi ada rasanya yang enggak enaknya, banyak orang yang butuh masa saya di rumah aja,” papar Nisa kepada RMOL Banten, Senin (04/05/2020).

Nisa juga mengatakan, jika itu merupakan risiko yang harus dihadapinya sebagai relawan.

“Tapi itu sih emang sudah risiko kalo jadi relawan kan ya, hal yang seperti itu enggak akan bisa dihindari,” ucapnya.

Dua tahun lamanya, Nisa sudah menjadi relawan. Namun, disaat situasi pandemi Covid-19 ini, ia hanya takut akan kesehatan keluarganya. Berbeda dengan kejadian bencana alam seperti banjir atau gempa.

“Saya bukan takut tertular, saya cuma takut nularin ke orang lain, wabahnya ini kan enggak main-main. Kalau gempa atau banjir selama tugas misalkan saya ketiban reruntuhan gempa atau kanyut pas banjir itu yang dirugikan saya sendiri karena saya yang kena sendiri enggak ngajak siapa-siapa. Kalau wabah Covid-19 ini kan saya bisa aja saya imunitasnya kuat bisa melawan virus itu, tapi saya malah membawa ke orang lain atau keluarga saya di rumah,” ungkap Nisa.

Walaupun begitu, orang tua Nisa kerap mendukung keputusan yang diambil oleh dirinya.

“Kalau keluarga saya sih aman-aman aja selalu ngasih izin, karena memang orang-orang rumah sudah paham kok. Kalau semisal mereka enggak kasih izin pasti saya cari celah buat dapet izin,” tegasnya.

Nisa pun berpesan dan mengajak kepada seluruh warga Tangsel dan seluruh warga lainnya di Indonesia, untuk terus patuh terhadap imbauan pemerintah dan terus menjaga kesehatan serta kebersihan.

“Semoga Covid-19 cepat selesai. Dan, warga bisa mematuhi imbauan pemerintah untuk memutus mata rantai Covid-19,” demikian Nisa.