Berkedok Panti Pijat, Polda Banten Bongkar Prostitusi Online

infobanten.id | Kota Serang – Ditreskrimsus Polda Banten berhasil melakukan pengungkapan perkara prostitusi online yang menggunakan media sosial Mi-Chat sebagai alat untuk marketing dalam bertransaksi prostitusi di panti pijat Spa Rayahu yang terletak di Ruko Mardigrass, Jl. Citra Boulevard, Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang pada Selasa (31/05/2022).

Saat press conference, Kabid Humas Polda Banten Kombes Pol Shinto Silitonga mengatakan, atas perkara tersebut Polda Banten menetapkan dua orang tersangka, ke dua orang tersangka itu Nada (22), berperan sebagai operator yang menerima dana tiap transaksi dan HG alias Ompong (42) berperan sebagai pemilik tempat usaha panti pijat.

“Mereka mempekerjakan sembilan therapis yang rata-rata wanita berusia muda di bawah 25 tahun,” kata Shinto, Kamis (16/06/2022).

Kasubdit V Siber Ditreskrimsus Polda Banten Kompol Wendy pada saat press conference juga menjelaskan tentang bagaimana terjadinya transaksi prostitusi online.

“Awalnya para pelaku menjaring tamu dengan cara menawarkan layanan seksual melalui media sosial Mi-Chat dan memberikan nomor operator untuk bisa memilih calon terapis dan negosiasi harga, pasca deal maka tamu diarahkan untuk masuk ke dalam panti pijat dan eksekusi layanan seksual tersebut,” kata Wendy

Wendy mengatakan, dari hasil pendalaman dipemeriksaan, diketahui bahwa bisnis prostitusi online tersebut telah beroperasi lebih dari dua bulan dan mendapatkan keuntungan ekonimis.

“Dari hasil pemeriksaan, para pelaku menjalankan bisnis prostitusi online ini mendapat keuntungan dengan cara yang cepat dan mudah, memasang tarif pelayanan seks sebesar Rp 500.000 tiap satu kali pelayanan waktu pendek, dana tersebut diterima oleh operator dan dibagikan kepada tiga pihak yaitu Rp 100.000 untuk pemilik, Rp 50.000 untuk operator dan Rp 350.000 untuk terapis yang memberikan layanan seksual,” tegas Wendy

Wendy mengatakan dalam pengungkapan kasus ini, penyidik menyita beberapa barang bukti di TKP, diantaranya mengamankan barang bukti berupa dua unit handphone, satu bundel screenshoot percakapan dan uang tunai Rp 3.090.000.

“Dalam perkara ini, ke dua pelaku akan dikenakan dengan pasal berlapis, yakni Pasal 45 ayat (1) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) serta Pasal 296 KUHP Tentang Kebiasaan atau Mata Pencarian memudahkan perbuatan asusila dengan ancaman pidana enam tahun penjara,” tegas Wendy.

Diakhir, Kapolda Banten Irjen Pol Prof. Dr. Rudy Heriyanto mengatakan, Polda Banten dan jajaran akan terus bertindak tegas terhadap prostitusi online.

“Polda Banten berkomitmen untuk terus memerangi penyakit masyarakat yang menyediakan tempat prostitusi yang tentu saja dapat merusak budaya masyarakat yang taat beragama,” tutur Rudy. (*)