
.
infobanten.id | KOTA SERANG – Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama terus mengajak masyarakat untuk lebih mengenal dan menjaga warisan sejarah melalui kampanye “Kunjungi, Lindungi, dan Lestarikan”. Gerakan yang digagas Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah VIII ini bertujuan menumbuhkan kesadaran bahwa cagar budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi identitas bangsa yang harus diwariskan kepada generasi mendatang.
Dalam kegiatan edukasi tersebut, Analis Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman BPK Wilayah VIII, Siti Rohani (Hani), mengajak peserta menyusuri jejak kejayaan Kesultanan Banten melalui beragam koleksi bersejarah yang tersimpan di museum. Mulai dari Meriam Ki Amuk, Watu Gilang, hingga pecahan batu karang berelief yang memiliki nilai arkeologis tinggi. Watu Gilang bahkan diyakini sebagai batu penobatan Sultan Banten dan diduga merupakan peninggalan masa Hindu yang dipindahkan dari Kerajaan Pajajaran usai penaklukan pada 1579.
Tak hanya itu, museum juga menyimpan koleksi keramik kuno dari berbagai belahan dunia, seperti Tiongkok, Jepang, Vietnam, Thailand, Timur Tengah, hingga Eropa. Ragam artefak tersebut menjadi bukti bahwa Banten pernah menjadi salah satu pusat perdagangan dan hubungan internasional yang mempertemukan berbagai bangsa dan kebudayaan.
“Setiap benda memiliki perjalanan sejarah yang luar biasa. Nilainya bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga menjadi sumber ilmu pengetahuan, identitas budaya, dan pembelajaran bagi generasi sekarang maupun yang akan datang,” ujar Hani.
Selain mengulas koleksi museum, Hani juga menjelaskan sejarah Keraton Surosowan sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Banten yang pernah menjadi simbol kejayaan politik dan ekonomi Nusantara. Ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap masih rendahnya kepedulian masyarakat terhadap pelestarian cagar budaya, termasuk maraknya aksi vandalisme di sejumlah situs bersejarah.
Di akhir sesi, Hani mengajak generasi muda untuk ikut berperan menjaga warisan sejarah melalui berbagai cara, seperti membuat konten edukatif, video dokumenter, hingga kegiatan literasi yang mampu memperkenalkan Banten Lama kepada masyarakat luas.
Kegiatan tersebut mendapat respons positif dari para peserta. Mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Seyni Lolian Septianty, mengaku terkesan dengan banyaknya koleksi museum yang berasal dari berbagai negara. Menurutnya, hal itu menjadi bukti kuat bahwa Banten pernah menjadi pusat perdagangan dunia. Sementara peserta lainnya, Saepul Umar dan Entu Amalia, menilai pembelajaran langsung di museum memberikan pemahaman yang lebih mendalam karena didukung bukti sejarah dan kajian ilmiah.
Melalui semangat “Kunjungi, Lindungi, dan Lestarikan”, Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama berharap semakin banyak masyarakat yang tidak hanya datang untuk berwisata sejarah, tetapi juga ikut menjaga dan melestarikan warisan budaya yang menjadi kebanggaan Banten dan Indonesia. (*)































