Produksi Telur Surplus 10.902 Ton

Distributor Telur (docNet)

infobanten.id | Menteri Pertanian Amran Sulaiman menjamin tidak ada kekurangan pasokan telur di pasaran. Sebab, produksi telur Januari-Juli 2018 mencapai 733.714 ton dan kebutuhan hanya 722.812 ton atau masih ada surplus 10.902 ton. “Jadi, tidak ada kekurangan pasokan telur,” kata Menteri Amran di Jakarta, Kamis.

Kementerian Pertanian (Kementan) juga memperkirakan produksi telur ayam ras tahun ini mencapai 1,73 juta ton. Mentan Amran juga mengatakan, pola produksi per bulannya mengikuti pola produksi peningkatan kebutuhan per bulannya. Misalya, pada saat hari besar keagamaan nasional (HBKN).

“Kondisi telur nasional masih mengalami surplus. Sampai Juni 2018 juga terdapat surplus 31.490 ton. Karena itu, tidak ada kekurangan produksi telur sampai Juni 2018,” kata Amran.

Untuk periode Januari-Desember 2018, kata dia, perkiraan ketersediaan produksi telur ayam ras 1.732.952 ton, sedangkan kebutuhan diperkirakan mencapai 1.730.550 ton. Atau, ada surplus sebanyak 2.402 ton.

Di sisi lain, Kementan menggelar operasi pasar (OP) untuk meredam harga telur ayam ras yang saat ini berkisar Rp 25-28 ribu per kilogram (kg). OP telur ayam digelar di 50 titik, meliputi Toko Tani Indonesia (TTI) Center, 43 pasar, dan enam perumahan atau kelurahan yang tersebar di Jabodetabek. Harga telur dalam OP tersebut dipatok Rp 19.500 per kg.

Peluncuran pertama OP dilakukan di TTI Center Pasar Minggu Jakarta pada Kamis (19/7) dengan mengerahkan 100 truk pick up telur ayam atau sebanyak 100 ton yang dipasok langsung dari peternak Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Banten, oleh Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN), CPI, Japfa, PLN, dan Malindo.

Salah satu penyebab tingginya harga telur adalah masalah rantai pasok, sehingga melambung ketika sampai di warung atau kosumen akhir. Hal ini terlihat dari harga di tingkat produsen hanya berkisar Rp18- 22 ribu per kg. Apalagi, ketersediaan telur ayam Januari-Juli 2018 surplus. Karena itu, permasalahan seperti rantai pasok dan iklim tidak menentu harus diselesaikan bersama.

“Sesuai perintah Bapak Presiden Joko Widodo, kami sepakat mengguyur pasar harga telur Rp 19.500 per kg secara terus menerus,” kata Mentan.

Amran mengklaim, harga di produsen saat ini sudah turun meski memang disparitasnya 60%. Paling lambat dalam satu minggu ke depan, harga dipastikan turun. “Kami sudah sepakat dalam rapat bersama Kemendag dan Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat,” kata Amran.

Berdasarkan data Direktorat Pemasaran dan Pengolahan Hasil Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, harga terendah telur di kandang peternak Jawa Timur Rp 19.500 per kg, di Jawa Tengah Rp 19 per kg. Sedangkan harga tertinggi di Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, yakni Rp 22 ribu per kg. (*)